Beranda > Tausiyah > NERAKA JAHANNAM & SIKAP SAHABAT RA

NERAKA JAHANNAM & SIKAP SAHABAT RA

Dikutip dr catatan Ustd Yusuf Mansyur

ANAS bin Malik riwayatkan, suatu ketika malaikat Jibril turun ke bumi menyampaikan wahyu untuk Rasulullah saw. Sesudah menerima wahyu, Rasulullah saw terisak-isak. Menangis. Beliau saw menanggungkan beban hati luar biasa berat tampaknya. Beberapa sahabat yang hadir pun ikutan menangis. Mereka belum mengetahui wahyu yang dibawa malaikat Jibril yang sedemikian Rasulullah saw berurai air mata tangis. Di sela derai air mata, air muka Rasulullah saw merona gembira tiap menatap paras wajah Fatimah, puteri beliau. Detik-detik meregang, tak satu sahabat yang berani bertanya gerangan apa yang terjadi. Abdurrahman bin Auf berencana mau menanyakannya nanti kepada Fatimah, beban apa yang ditanggungkan Rasulullah saw hingga beliau berisak air mata.
Umar bin Khatab riwayatkan, Abdurrahman bin Auf benar-benar berkunjung ke pondok Fatimah.

Di depan pintu pondok Abdurrahman bin Auf
menyerukan salam, “Assalamu’alaiki, wahai puteri Rasulullah saw. Fatimah membalas salam, “Siapa engkau?” Jawabnya, “Saya Abdurrahman bin Auf.”
Fatimah bertanya dari dalam pondok, “Ada keperluan apa engkau datang kemari?” Abdurrahman menyahut, “Diriku lihat Rasulullah saw berisak tangis begitu menerima wahyu Allah yang dibawa malaikat Jibril tadi. Kami belum mengetahui wahyu apa yang membuat Rasulullah saw sesedih itu.” Fatimah membilang, ‘Tunggu sebentar. Aku rapikan pakaian dan segera menghadap Rasulullah saw. Semoga beliau memberitahuku apa yang disampaikan malaikat Jibril kepada Rasulullah saw.”

Fatimah keluar pondok kenakan pakaian bersalut kain selimut sangat bersahaja, dijahit dengan serat daun kurma di dua belas tempat. Dan pehikayat, Umar bin Khatab, yang pas melintas di sana melihatnya penuh masygul, “Sedih hatiku lihat kesederhanaan Fatimah. Para putri kaisar dan raja semua kenakan pakaian kain sutera yang mewah. Tapi Fatimah, putri seorang nabi dan rasul, yang kemuliaan, keagungan dan kekuasaannya melebihi para penguasa dunia rela kenakan kain kasar dijahit dengan serat daun kurma bertambal di dua belas tempat.”

Di hadapan Rasulullah saw Fatimah berseloroh, “Wahai ayah. Tahukah engkau, Umar iba melihat pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan. Sungguh lima tahun perkawinanku dengan Ali Bin Abi Thalib tiada pernah kami tidur di atas kasur empuk. Kami tidur hanya di atas kulit domba. Bila siang hari kulit domba tersebut kami gunakan untuk gerai barang dagangan di atas onta,
malamnya kami jadikan alas tidur. Dan bantal tidur kami kulit domba samakan berisikan daun-daun kurma.”

Rasulullah saw tersenyum lembut, “Wahai Umar sahabatku. Janganlah engkau terlalu memikirkan keadaan puteriku. Boleh jadi dalam kesempatan lain dia mengejar ketertinggalannya dari puteri-puteri pembesar lain.” Kesempatan yang lain itu adalah pada kehidupan akhir. Kepastian Fatimah sebagai ahli surga, telah meronakan gembira wajah Rasulullah saw di sela-sela sedu sedan beliau menerima wahyu.
Fatimah bertanya dalam-dalam. “Wahai ayah. Apa yang sebabkan dirimu menangis?” Rasulullah saw menerangkan, “Puteriku. Bagaimana aku tidak menangis sedang malaikat Jibril datang membawa ayat padaku: ‘Dan sesungguhnya neraka jahanam diancamkan untuk semua manusia’!”

Fatimah memohon agar Rasulullah saw jelaskan gambaran neraka Jahanam.

Rasulullah saw bersabda, “Wahai putriku. Sungguh pintu terkecil neraka Jahanam terdiri dari tujuh puluh ribu gunung berapi yang sangat panas. Masing-masing gunungnya memiliki tujuh puluh ribu jurang menganga api yang ganas. Masing-masing jurangnya memiliki tujuh puluh juta tebing api yang menghanguskan. Masing-masing tebing jurangnya mempunyai satu juta kota-kota api. Dan masing-masing kota api memiliki tujuh puluh juta komplek perumahan api. Lalu, masing-masing perumahan api memiliki satu juta rumah api. Masing-masing rumah api memiliki tujuh puluh juta ruangan api
yang bergolak. Masing-masing ruangan api memiliki tujuh puluh juta sudut berapi. Masing-masing sudut memiliki sejuta macam siksa yang berlainan. Tak ada manusia yang sanggup menanggung satu siksaannya.”

Berjuta macam siksa yang mengerikan dan belum pernah terselenggara di dunia sejak manusia pertama hingga manusia terakhir. Kekejaman, kebengisan paling liar dan brutal yang belum pernah tercakup dalam imajinasi paling keji penyiksaan atas manusia.

Mendengar penjelasan Rasulullah saw, yang kebenarannya pasti, Fatimah sontak jatuh tersungkur dan menjerit, “Aduh. Betapa celaka orang yang masuk neraka Jahanam!”

Pun Umar bin Khatab menjerit, “Oh. Andai saja diriku menjadi seekor domba milik keluargaku. Mereka sembelih dan cincang-cincang tubuhku lalu direbus, aku lebih selamat, karena tidak terancam siksa neraka Jahanam. Bila menjadi domba, tak terancam diriku dari Jahanam.”

Abu Bakar menekurkan wajah, “Duh. Andai saja aku hidup sebagai burung di rimba. Makanku hanya buah-buahan serta minum air di sungai dan bersarang di rerantingan pohon, aku lebih selamat. Aku terbebas dari hisab, tidak terancam siksa neraka, tidak perlu kuperhatikan penjelasan ancaman neraka Jahanam.”

Sekeluar dari pondok Rasulullahg saw, Ali Bin Abi Thalib bergumam, “Aduh. Andai saja ibuku tidak melahirkan diriku, andai saja aku mati kala masih bayi. Andai saja aku ini rerumputan yang dimangsa ternak. Andai saja aku ini satwa hutan yang dagingku dimakan manusia. Maka aku tak perlu mendengar penjelasan ancaman siksa neraka Jahanam. Maka aku lebih selamat.”

Kategori:Tausiyah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: